3MEDIA, GORONTALO – Pemerintah Kota Gorontalo menggelar apel peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di kawasan Perumahan ASN, Selasa (9/6/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Gorontalo Indra Gobel, Sekretaris Daerah, Ismail Madjid, unsur Forkopimda, pimpinan OPD, pihak swasta, serta kalangan akademisi dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Dalam sambutannya, Wawali Indra menyoroti persoalan sampah yang menurutnya menjadi ancaman lingkungan paling nyata bagi Kota Gorontalo saat ini. Ia menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi daerah bukan lagi sekadar polusi udara, melainkan polusi sampah yang berpotensi menimbulkan berbagai penyakit. “Jika sampah menumpuk lebih dari dua hari, maka itu sudah menjadi sumber polusi dan dapat memicu berbagai masalah kesehatan,” ujar Wawali Indra.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Wawali Indra meminta Kepala Pusat Sustainable Development Goals (SDGs) UNG untuk merancang konsep sustainable city atau kota berkelanjutan bagi Kota Gorontalo. Menurutnya, pembangunan kota harus disiapkan sejak dini dengan dukungan infrastruktur yang memadai, mulai dari sistem drainase, pemilahan sampah, hingga pengelolaan tempat pembuangan akhir (TPA) yang jauh dari kawasan permukiman warga.
Ia juga mengingatkan bahwa dampak perubahan iklim kini semakin nyata dirasakan masyarakat. Salah satu contohnya adalah banjir besar yang melanda Gorontalo pada Juli 2024, yang menunjukkan adanya pergeseran pola musim dan cuaca ekstrem.
Maka dari itu, Wawali Indra mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga kebersihan lingkungan melalui gerakan rutin membersihkan lingkungan setiap hari Selasa. Program tersebut, kata dia, sejalan dengan upaya mewujudkan lingkungan yang bersih dan asri sebagaimana menjadi perhatian pemerintah pusat.
Sebagai bagian dari aksi nyata peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Indra Gobel bersama unsur Forkopimda melakukan penanaman pohon buah di lokasi kegiatan. Pohon yang ditanam antara lain pohon mangga dan rambutan.Masih kata Wawali Indra, kegiatan penanaman pohon tidak boleh berhenti sebatas seremoni tahunan.
Ia berharap gerakan menjaga lingkungan dapat menjadi budaya yang tumbuh di tengah masyarakat, dimulai dari kebiasaan sederhana seperti memilah sampah dari rumah. “Menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Dimulai dari rumah, dari kebiasaan memilah sampah, hingga menjaga kebersihan lingkungan sekitar,” pungkasnya. (Rls)

