3MEDIA, GORONTALO – Pergerakan harga di Kota Gorontalo sepanjang September 2026 menunjukkan tekanan yang cukup kuat. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Gorontalo mencatat inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 4,48 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,57. Angka tersebut menempatkan Kota Gorontalo pada urutan keenam inflasi y-on-y tertinggi di wilayah Sulawesi.
Inflasi Kota Gorontalo tercatat lebih rendah dibandingkan inflasi Provinsi Gorontalo yang mencapai 5,46 persen, namun lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,28 persen. Data tersebut disampaikan BPS Kota Gorontalo melalui Berita Resmi Statistik Nomor 12/10/7571/Th. III yang dirilis pada 1 Oktober 2026. Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan inflasi berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau.
Kelompok ini mengalami inflasi y-on-y sebesar 10,40 persen dan memberikan andil terbesar terhadap inflasi Kota Gorontalo, yakni 3,00 persen. Di dalam kelompok tersebut, cabai rawit menjadi komoditas dengan andil terbesar, mencapai 2,35 persen. Tekanan harga cabai rawit juga terlihat dalam pergerakan inflasi bulanan. Pada September 2026, inflasi month-to-month (m-to-m) Kota Gorontalo tercatat 1,96 persen, dengan kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil sebesar 1,92 persen.
Cabai rawit menjadi penyumbang terbesar dalam kelompok tersebut dengan andil 1,88 persen. Selain komoditas pangan, tekanan inflasi juga datang dari sektor transportasi. Kelompok transportasi mengalami inflasi y-on-y sebesar 6,88 persen dengan andil 0,68 persen. Komoditas angkutan udara menjadi penyumbang terbesar pada kelompok ini dengan andil 0,54 persen, disusul bensin sebesar 0,10 persen dan tarif kendaraan roda dua online sebesar 0,02 persen.
Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi y-on-y sebesar 7,85 persen dengan andil 0,65 persen. Dalam kelompok ini, emas perhiasan memberikan kontribusi terbesar dengan andil 0,60 persen. Secara keseluruhan, BPS mencatat inflasi Kota Gorontalo pada September 2026 sebesar 1,96 persen secara bulanan, 3,59 persen secara tahun kalender, dan 4,48 persen secara tahunan.
Kenaikan tahunan tersebut terjadi karena meningkatnya sejumlah kelompok pengeluaran, terutama makanan, minuman dan tembakau, transportasi, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya. Jika dibandingkan dengan periode yang sama, inflasi September 2026 juga lebih tinggi. Pada September 2024, inflasi y-on-y Kota Gorontalo tercatat 2,44 persen, kemudian 1,83 persen pada September 2025, sebelum meningkat menjadi 4,48 persen pada September 2026.
Di sisi lain, tidak seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan. BPS mencatat beberapa kelompok mengalami penurunan indeks, yakni pakaian dan alas kaki sebesar 2,01 persen, perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,19 persen, kesehatan sebesar 0,14 persen, serta pendidikan sebesar 1,41 persen. Dengan perkembangan tersebut, cabai rawit menjadi perhatian utama dalam pergerakan harga Kota Gorontalo pada September 2026, mengingat komoditas tersebut memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi tahunan maupun inflasi bulanan. (Rls)

