3MEDIA, GORONTALO – Tahun 2026 menjadi musim baru bagi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Gorontalo. Seperti tim yang merombak taktik di awal kompetisi, DLH melakukan penataan ulang sistem pengangkutan sampah agar permainan lebih rapi dan tidak mudah kecolongan.
Kepala DLH Kota Gorontalo, Lukman Kasim, menyebut kehadiran 50 gerobak motor (Getor) pengangkut sampah menjadi modal penting di awal laga. Armada tersebut kemudian dibagi ke dalam 10 zona, sembilan diantaranya diserahkan ke kelurahan sebagai pemain inti. Satu zona lagi dikendalikan langsung DLH sebagai pengatur tempo.
“Di awal pasti ada dinamika. Penyesuaian jalur itu seperti pemain baru, butuh waktu untuk menyatu,” ujar Lukman. Pada pekan-pekan awal, DLH memang mendapati sejumlah jalur terlewati. Namun situasi itu dianggap sebagai bagian dari evaluasi, bukan kesalahan fatal. Adaptasi pengemudi Getor menjadi kunci agar alur pengangkutan tidak lagi bocor di lapangan.
Menurut Lukman, persoalan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat harus ikut turun ke lapangan, bukan sekadar menonton dari tribun. “Kalau hanya mengandalkan pemerintah, pertandingannya berat. Kesadaran masyarakat itu penentu hasil akhir,” katanya. Di sektor pengolahan, DLH juga membenahi lini tengah lewat optimalisasi TPS 3R. Dari 10 TPS 3R yang ada, tujuh masih aktif, sementara tiga lainnya dianggap seperti pemain cedera yang perlu dipulihkan.
DLH kini fokus menghidupkan kembali TPS tersebut agar skema pemilahan sampah berjalan maksimal. Lewat TPS3R, hanya residu yang dikirim ke TPA Talumelito. Strategi ini terbukti menekan biaya. Jika sebelumnya pembayaran pembuangan mencapai Rp264 juta per bulan, kini ditekan menjadi sekitar Rp175 juta per bulan. “Kalau yang dibuang hanya residu, bebannya jauh lebih ringan,” ujar Lukman.
DLH juga berencana melatih kembali para pengelola TPS3R di kelurahan. Mereka disiapkan sebagai pemain kunci yang paham cara memilah sampah dengan benar agar skema permainan tetap jalan. Untuk jadwal pertandingan, pengangkutan sampah umumnya dimulai pukul 05.30 hingga 08.30 Wita, meski di lapangan sering melebar hingga pukul 10.00 Wita. Masalah muncul ketika warga membuang sampah di luar jam operasional, sehingga sampah kembali terlihat meski jalur sudah dilalui.
“Itu seperti bola liar setelah peluit. Kita sudah main, tapi masih ada yang buang di luar waktu,” ucap Lukman. DLH kini tengah menyusun ulang skema layanan berbasis waktu agar warga menyesuaikan pembuangan sampah dengan jadwal yang ditetapkan. Selain itu, sektor retribusi juga masuk tahap modernisasi.
Sistem pembayaran diarahkan ke digital melalui barcode, meninggalkan cara lama berbasis tunai. Targetnya jelas permainan lebih tertib, kebobolan berkurang, dan Kota Gorontalo keluar sebagai pemenang dalam laga panjang bernama pengelolaan sampah. (Rls)












