3MEDIA, GORONTALO – Semarak kebersamaan mewarnai pelaksanaan Festival Atupato Tanggidaa 2026 yang digelar di dua titik, yakni Masjid Al Mubarak Dulomo Utara dan Lorong Ketupat Kampung Iklim, Sabtu (28/3/2026).
Wakil Wali Kota Gorontalo Indra Gobel menilai, perayaan Hari Ketupat atau Atupato tidak sekadar tradisi tahunan, melainkan memiliki makna kuat sebagai ajang mempererat silaturahmi masyarakat pasca Idulfitri. “Intinya adalah kebersamaan dan silaturahmi. Setelah tujuh hari Idulfitri, ini momentum masyarakat untuk kembali berkumpul, makan bersama, dan saling mengunjungi,” ujarnya.
Ia bahkan mendorong agar istilah “Hari Ketupat” semakin diperkuat dengan identitas lokal sebagai “Hari Atupato”, sehingga memiliki nilai budaya yang khas bagi Kota Gorontalo. Lebih jauh, Wawali Indra melihat potensi besar festival ini untuk dikembangkan sebagai agenda wisata religi yang mampu menarik kunjungan dari luar daerah. “Ke depan harus kita rancang lebih matang. Festival Atupato ini bisa menjadi daya tarik, sehingga orang dari luar datang ke Kota Gorontalo. Ini bagian dari bagaimana kita meningkatkan PAD,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Festival Atupato Tanggidaa 2026, Jamaludin Kadir mengungkapkan, kegiatan ini merupakan hasil partisipasi masyarakat Tanggidaa. “Sekitar 80 persen pendanaan berasal dari masyarakat dan Badan Takmirul Masjid. Selebihnya didukung pemerintah kota dan beberapa sponsor swasta,” ungkapnya.
Ia menambahkan, festival ini digerakkan langsung oleh kolaborasi berbagai elemen masyarakat, mulai dari Karang Taruna, remaja masjid, hingga kelompok-kelompok warga di Tanggidaa.Ke depan, pihaknya berharap Festival Atupato dapat masuk dalam kalender event resmi Pemerintah Kota Gorontalo, khususnya sebagai agenda tahunan berbasis religi dan budaya.
“Harapannya ini bisa jadi event tahunan pemerintah kota, menjadi kalender event religi,” tambahnya. Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, Festival Atupato Tanggidaa tidak hanya menjadi ruang pelestarian tradisi, tetapi juga berpotensi berkembang sebagai ikon baru pariwisata berbasis budaya di Kota Gorontalo. (Rls)











