3MEDIA, GORONTALO – 50 hari tanpa hujan menjadi alarm serius bagi Kota Gorontalo. Ancaman kemarau panjang yang diprediksi akan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September mendatang membuat pemerintah mulai mengingatkan masyarakat untuk bersiap menghadapi potensi krisis air bersih akibat fenomena El Nino.Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Gorontalo, wilayah Gorontalo telah memasuki Hari Tanpa Hujan (HTH) selama 50 hari berturut-turut dalam dua bulan terakhir.
Kondisi tersebut diperparah dengan adanya peringatan dini fenomena El Nino yang diperkirakan dapat memperpanjang musim kemarau di sejumlah wilayah, termasuk Kota Gorontalo.Menghadapi situasi tersebut, pemerintah melalui Kepala Pelaksana BPBD kota Gorontalo, Hendri Ticoalu menegaskan bahwa langkah mitigasi harus segera dilakukan secara bersama-sama guna meminimalisasi dampak yang ditimbulkan, khususnya terkait ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Ancaman penurunan pasokan air bersih mulai terlihat dari berkurangnya debit air baku yang bersumber dari Sungai Bone dan Sungai Bulango. ”Kapasitas sumber air sebagaimana diakui direktur PDAM tadi bahwa debit air telah mengalami penurunan secara signifikan seiring berlangsungnya musim kemarau sepanjang 50 hari terakhir ini,” ungkap Hendri dalam sosialisasi Urusan Pemerintahan di Kelurahan Molosipat W, Senin (27/7/26) malam.
Untuk mengantisipasi kondisi yang lebih buruk, Hendri mengimbau masyarakat mulai menerapkan pola penggunaan air yang lebih bijak dan hemat dalam kehidupan sehari-hari. ”Penggunaan air untuk kebutuhan utama seperti memasak, mandi, mencuci, dan keperluan rumah tangga lainnya diharapkan dapat dilakukan secara lebih terukur selama musim kemarau berlangsung,” katanya.Selain menghemat penggunaan air, masyarakat juga diminta untuk mempersiapkan cadangan air bersih secara mandiri di rumah masing-masing.
Langkah ini dinilai penting untuk mengantisipasi kemungkinan berkurangnya distribusi air dari PDAM maupun menurunnya debit air pada sumur dangkal milik warga. ”Kami mengimbau warga menyiapkan sarana penampungan air seperti tandon maupun gentong air sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi kemarau panjang yang diprediksi masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan,” tegas Hendri. Tidak hanya itu, masyarakat juga diminta lebih peka terhadap potensi kebocoran jaringan pipa air bersih.
Kebocoran sekecil apa pun, baik yang terjadi di lingkungan rumah maupun fasilitas publik, dapat berdampak besar terhadap ketersediaan air bersih apabila tidak segera ditangani. Pelaporan dini terhadap kebocoran pipa dinilainya menjadi salah satu langkah sederhana namun efektif untuk menjaga ketersediaan pasokan air di tengah menurunnya kapasitas sumber air baku.Di sisi lain, musim kemarau juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran di wilayah Kota Gorontalo.
Pemerintah mencatat adanya peningkatan intensitas peristiwa kebakaran yang dilaporkan dalam beberapa waktu terakhir. ”Oleh karena itu, kami juga mengimbau untuk tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan serta memastikan instalasi listrik di rumah dalam kondisi aman dan layak digunakan,” pungkasnya. (Rls)
