3MEDIA, GORONTALO – Pemerintah Kota Gorontalo mulai mendorong pelestarian budaya dari lingkungan sekolah. Gerakan itu ditandai dengan launching Satu Sekolah Satu Karya Budaya dan Gerakan Kota Gorontalo Mohulonthalo, yang digelar di SDN 99 Kota Utara, Jumat (28/8/2026). Wakil Wali Kota Gorontalo, Indra Gobel yang membuka kegiatan itu, mengatakan bahwa gerakan tersebut tidak boleh berhenti pada kegiatan peluncuran.
Sekolah diminta menjadi tempat anak-anak mengenal, menggunakan, mencintai hingga menghasilkan karya budaya Gorontalo.Menurutnya, kebudayaan tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Seluruh perangkat daerah juga harus mengambil bagian dalam menjaga identitas daerah. “Saya minta kepada seluruh pimpinan OPD jangan menyerahkan urusan kebudayaan hanya kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Setiap OPD harus menjadi bagian dari gerakan ini,” kata Wawali Indra.
Ia juga meminta kepala sekolah dan guru menjadikan sekolah sebagai ruang yang dekat dengan kebudayaan daerah. Dari sekolah, karya-karya anak Gorontalo diharapkan tidak hanya dikenal di daerah sendiri, tetapi dapat berkembang hingga tingkat nasional bahkan internasional. Wawali Indra ingin generasi muda Gorontalo tumbuh dengan kemampuan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan identitas daerahnya.
“Anak-anak kita harus mampu berkata, saya anak Gorontalo, saya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, saya terbuka karena dunia tetapi saya tidak kehilangan akar budaya saya,” ujarnya. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai gambaran generasi yang ingin dibangun melalui gerakan kebudayaan di Kota Gorontalo modern, terbuka terhadap dunia, namun tetap mengenal dan membawa identitas Gorontalo.
Salah satu yang menjadi perhatian Indra adalah penggunaan bahasa Gorontalo. Ia mengajak para pemimpin daerah dan masyarakat mulai membiasakan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari.Ia menilai bahasa daerah tidak akan bertahan jika hanya disimpan sebagai pengetahuan, tetapi harus terus digunakan. “Tidak perlu menunggu fasih, tidak perlu takut salah. Sebab bahasa akan hidup kalau digunakan,” katanya.
Wawali Indra bahkan mengaitkan gerakan tersebut dengan pengalaman pribadinya saat pernah tinggal di Gorontalo ketika masih kecil. Ia menyinggung bagaimana sejumlah istilah, makanan dan penyebutan dalam bahasa Gorontalo yang dikenalnya dahulu mengalami perubahan dalam penggunaan sehari-hari. Menurutnya, perubahan tersebut menjadi pengingat bahwa bahasa dan budaya perlu terus digunakan agar tidak perlahan ditinggalkan.
Ia kemudian mencontohkan penggunaan istilah Tumbilotohe dan lebaran ketupat yang menurutnya perlu tetap memiliki identitas bahasa Gorontalo dalam penyebutannya.Bagi Wawali Indra, pelestarian budaya tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kebiasaan sederhana di sekolah, kantor pemerintahan dan ruang komunikasi masyarakat justru dapat menjadi langkah awal untuk menjaga identitas daerah.
Untuk itu, ia mendorong konsep satu sekolah satu karya budaya agar setiap sekolah memiliki karya yang lahir dari kreativitas siswa dan berangkat dari kekayaan budaya Gorontalo. Wawali Indra juga mengajak pemerintah daerah bersama berbagai lembaga terkait menjadikan Kota Gorontalo sebagai ruang untuk mengembangkan kebudayaan perkotaan yang tetap berakar pada tradisi lokal.
“Kita tidak boleh berpikir kecil tentang kebudayaan kita. Gorontalo tidak boleh hanya menjadi konsumen kebudayaan dunia. Gorontalo harus menjadi bagian dari bangsa yang ikut memberi warna kepada kebudayaan dunia,” tegasnya. Ia berharap gerakan tersebut dapat meninggalkan ekosistem kebudayaan yang terus hidup meski masa pemerintahan berganti.“Mulai dari hal yang sederhana: satu sekolah, satu karya budaya; satu pemerintah, satu komitmen kebudayaan; satu Gorontalo, satu identitas,” pungkas Wawali Indra. (Rls)
