3MEDIA, GORONTALO – Selain meresmikan jalan B.J Habibie dan dr Zainal Umar Sidiki Pemerintah Kota Gorontalo resmi mengabadikan tokoh proklamasi “Sekali ke Jogja, tetap ke Jogja” Ajoeba Wartabone. Peresmian ini menandai komitmen kuat pemerintah daerah dalam merawat sejarah dan menghargai rekam jejak perjuangan para putra terbaik bangsa asal Gorontalo.
“Ini bukan sekadar seremonial penggantian plang atau penunjuk arah. Lebih dari itu, ini merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan dari Pemerintah Kota Gorontalo atas jasa, dedikasi, serta perjuangan para tokoh terdahulu yang telah memberikan sumbangsih bagi kemajuan masyarakat Gorontalo,” ujar Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea dalam sambutannya pada kegiatan peresmian penggantian nama tiga ruas jalan, Rabu (20/5/2026).
Dalam suasana penuh keakraban, Wali Kota Adhan sempat berkelakar mengenai minimnya ruas jalan utama yang tersisa di pusat kota, karena sebagian besar telah dinamai dengan para mantan wali kota pendahulu. “Sekarangan niat saya ini Jalan Palma, Jalan Jeruk, Jalan Manado, Jalan Irian, mau ganti semua. Di mana lagi? Jalan Irian di Gorontalo? Ini rencana saya ganti semua, nanti kita akan cari tokoh-tokoh yang Insyaallah bisa kita cantumkan nama-nama mereka di jalan-jalan tersebut,” tegas Wali Kota Adhan.
Sementara itu, Roeland Niode, perwakilan keluarga almarhum Ajoeba Wartabone mengaku sangat bersyukur dan apresiasi mendalam kepada Pemkot Gorontalo atas kehormatan yang diberikan. “Alhamdulillah hari ini saya bisa hadir untuk mewakili keluarga opa saya, Ajoeba Wartabone. Saya adalah cucu tertua, alhamdulillah masih hadir pada saat peresmian jalan. Untuk itu, terima kasih kami ucapkan kepada Bapak Wali Kota atas penamaan jalan Ajoeba Wartabone,” tutur Roeland dengan nada bergetar.
Roeland kemudian mengisahkan kembali fragmen sejarah kepahlawanan sang kakek di Makassar yang terekam dalam sejarah diplomasi Indonesia. “Ajoeba Wartabone itu mendeklarasikan ‘Sekali ke Jogja, tetap ke Jogja’. Itu 23 Mei 1947. 1947 itu negara dikacaukan oleh si Van Mook, Belanda. Diadu, diadu domba, dipecah-pecahkan,” kenangnya.
Roeland menambahkan, keberanian kakeknya yang tak lain adalah kakak dari Pahlawan Nasional, Nani Wartabone begitu luar biasa kala itu, “Ajoeba pada saat itu, di hadapan para kolonial itu, ada satu pertemuan, istilahnya itu Tweede Kamer, DPR nya pada waktu itu-memberanikan diri untuk mendeklarasikan ‘Sekali ke Jogja, tetap ke Jogja’. Semangat ini menjadi impian juga dari adiknya, Nani Wartabone,” ujar mantan anggota DPD RI itu.
Pengakuan Roeland tersebut sejalan dengan testimoni Wali Kota Adhan Dambea yang mengaku sempat terkejut setelah membaca literatur sejarah Ajoeba Wartabone yang diserahkan langsung di kediamannya. (Rls)

